JAKARTA (20 September) – Jangan pernah pisahkan Malaysia dan Indonesia. Pesan itu disampaikan Presiden UMNO Ahmad Zahid Hamidi, saat bertemu Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di NasDem Tower, Jakarta, Sabtu malam (19/9).
Pertemuan tersebut membawa pesan lebih besar dari sekadar perjumpaan dua pimpinan partai politik. Di dalamnya bertemu kepentingan dua negara serumpun, masa depan ASEAN, sekaligus kisah personal Zahid yang memiliki akar keluarga di tanah Jawa.
Bagi Surya Paloh, hubungan Indonesia dan Malaysia memiliki posisi khusus yang tidak dapat disamakan dengan hubungan Indonesia dengan negara lain. Kedekatan kedua negara bukan semata persoalan perdagangan atau hitungan untung-rugi ekonomi, melainkan fondasi kekuatan bersama dua bangsa yang memiliki sejarah dan kebudayaan panjang.
“Adalah satu hal yang salah besar kalau kita tidak menempatkan hubungan Indonesia dengan Malaysia sebagai satu lex specialis. Hubungan ini bukan hanya datang dengan pertimbangan keuntungan-rugi semata-mata, tetapi jauh lebih besar daripada itu, karena merupakan fondasi kekokohan kita sebagai dua bangsa serumpun yang mampu menjaga kebangkitan dan kekuatan bersama untuk membangun bangsa Indonesia dan bangsa Malaysia,” ujar Surya.
Surya juga menempatkan kedekatan Indonesia-Malaysia dalam konteks penguatan ASEAN. Ia menilai, kedua negara memiliki ruang untuk membangun komunikasi strategis dan mencari jalan bersama menghadapi berbagai tantangan kawasan.
“ASEAN, misalnya, di mana Indonesia merupakan salah satu sokoguru pendirinya. Ketika ini tidak lagi bisa menjadi satu kekuatan bersama, pertanyaannya kepada kita bersama, apa yang salah? Di sana ada sahabat kita, di sana ada saudara kita, Malaysia. Tidak ada salahnya kita bisa duduk bersama, minum kopi bersama dengan kawan kita. Hal-hal yang terjadi dalam persoalan domestik kedua negara bukan berarti kita mengintervensi kepentingan domestik masing-masing, tetapi melihat apa yang bisa kita berikan untuk saling memperkuat permasalahan yang sedang dihadapi, baik oleh Indonesia maupun Malaysia,” kata Surya.
Pandangan tersebut mendapat resonansi kuat dari Ahmad Zahid. Presiden UMNO yang juga Wakil Perdana Menteri Malaysia itu membawa cerita personal tentang hubungan Indonesia-Malaysia yang menurutnya tidak dapat dilepaskan dari sejarah keluarga dan kebudayaan kedua bangsa.
Zahid mengungkapkan bahwa kakeknya berasal dari Yogyakarta. Ia tumbuh dalam keluarga yang menggunakan bahasa Jawa dan menyebut dirinya sebagai tiyang Jawi.
Zahid mengingat pengalamannya ketika menjabat Menteri Pertahanan Malaysia, dan mempelajari sejarah konfrontasi Indonesia-Malaysia pada 1963. Ia menyebut, hubungan kedua negara telah melewati sejarah panjang.
“Sewaktu saya menjadi Menteri Pertahanan, saya pelajari satu perkara. Malaysia dan Indonesia itu pernah berkonfrontasi pada tahun 1963. Dua sosok yang mempertahankan keakraban Malaysia dan Indonesia itu ialah Tun Abdul Razak, Perdana Menteri kedua Malaysia, dan di Indonesia ada Adam Malik, sewaktu itu Menteri Luar Negeri. Saya lihat dokumen. Malaysia dan Indonesia boleh berkonfrontasi dengan syarat kedua Menteri Pertahanan setuju untuk perang. Mana mungkin saya sebagai Menteri Pertahanan waktu itu mau perang dengan Indonesia, kerana kakek saya juga lahir di Jogja. Kula tiyang Jawi. Mangan ora mangan asal ngumpul,” ungkap Zahid.
Kedekatan personal itu kembali muncul ketika Zahid mengenang kunjungannya ke Yogyakarta, saat Gunung Merapi meletus. Saat itu, ia menggunakan bahasa Jawa, ketika berkomunikasi dengan masyarakat dan wartawan.
Zahid menceritakan bagaimana sejumlah wartawan mempertanyakan kedatangan Malaysia ke Indonesia untuk memberikan bantuan, bahkan mengaitkannya dengan sejarah hubungan kedua negara.
“Saya bilang, Malaysia dan Indonesia itu seperti saudara kandung. Kita dalam rantau Kepulauan Melayu. Sebelum Belanda masuk, tidak ada Indonesia, tidak ada Tanah Melayu. Yang ada ialah Kepulauan Melayu, Malay Archipelago. Tidak ada paspor, tidak ada boundary. Saya datang mahu membantu kerana saya dihantar oleh Perdana Menteri waktu itu, Pak Najib Razak. Lalu saya katakan, Dulure teka seka Malaysia arep ngrewangi kok malah diarani?Artinya, saudara yang datang dari Malaysia untuk membantu kok malah dimarahi,” tutur Zahid.
Menurut Zahid, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi jembatan yang membuat masyarakat dari dua negara merasa dekat dan saling memahami. Pesan itu kemudian ia tarik ke dalam konteks hubungan Indonesia-Malaysia saat ini.
“Jangan pernah pisahkan Malaysia dan Indonesia, sesungguhnya. Sesungguhnya kita negara serumpun. Biarpun ada rakyat Malaysia dan rakyat Indonesia yang berbeda agama, itu masing-masing kita hormati. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika kita hormati, dan di Malaysia ada Rukun Negara yang kita hormati. Siapa pun yang menjadi Presiden Indonesia dan siapa pun yang menjadi Perdana Menteri Malaysia, rakyat Malaysia dan rakyat Indonesia pastikan bahwa people-to-people, kita harus bersama. Apalagi government-to-government, kita harus tetap utuh,” ujar Zahid.
Pertemuan Surya Paloh dan Ahmad Zahid sekaligus membuka ruang penguatan komunikasi antara Partai NasDem dan UMNO. Kedua partai sama-sama menempatkan kemajuan bangsa masing-masing sebagai kepentingan utama, sembari melihat pentingnya hubungan yang semakin erat antara Indonesia dan Malaysia.
Surya menyambut Zahid sebagai sahabat dan menegaskan Indonesia selalu terbuka bagi komunikasi yang lebih dekat dengan Malaysia. Sebaliknya, Zahid mengundang Surya Paloh dan jajaran pimpinan Partai NasDem untuk berkunjung ke Kuala Lumpur dan berdialog dengan jajaran UMNO. (NS/FM)
0 Komentar