KUPANG (27 Oktober): Pendidikan yang terhubung dengan potensi daerah menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) II, Viktor Bungtilu Laiskodat, saat menyerap aspirasi masyarakat di Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, NTT, Selasa (27/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Viktor mendorong pengembangan pendidikan yang mampu membekali generasi muda dengan ilmu pengetahuan, keterampilan praktis, dan kemampuan berwirausaha. Menurut dia, kekayaan sumber daya alam NTT perlu diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia agar dapat diolah menjadi kegiatan ekonomi produktif yang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Viktor menilai, pendidikan perlu diarahkan agar peserta didik mampu mengenali sekaligus mengembangkan potensi daerahnya. Ia mencontohkan sektor garam, rumput laut, perikanan, peternakan, dan pengolahan hasil laut sebagai bidang yang dapat dikembangkan melalui pendidikan vokasi serta pelatihan berbasis kebutuhan industri.
“NTT ini kaya sekali. Kabupaten Kupang juga memiliki potensi yang luar biasa. Persoalannya, kekayaan itu belum dikelola secara maksimal. Kita perlu menyiapkan manusia yang mampu mengolahnya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Viktor dalam pertemuan tersebut.
Ia mengusulkan pengembangan model pendidikan yang lebih dekat dengan kebutuhan ekonomi masyarakat, seperti sekolah atau program pelatihan pengolahan garam, budidaya rumput laut, pembesaran ikan kerapu, hingga produksi mutiara. Dengan pendekatan tersebut, lulusan diharapkan memiliki keterampilan yang dapat langsung diterapkan untuk membangun usaha di daerah asalnya.
“Anak-anak kita harus sekolah dan memiliki keterampilan yang berguna. Kita perlu menyiapkan generasi yang mampu mengembangkan potensi daerah sendiri, menciptakan usaha, dan membuka lapangan kerja. Jangan sampai sumber daya kita dimanfaatkan pihak lain, sementara masyarakat kita hanya menjadi penonton,” ujarnya.
Dalam dialog bersama warga, Viktor juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai investasi jangka panjang untuk membangun masyarakat yang mandiri. Ia mengajak orang tua dan pemerintah desa memberi perhatian lebih besar terhadap akses pendidikan anak-anak, terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Menurut Viktor, pendidikan perlu membentuk karakter, kedisiplinan, kemampuan berpikir kritis, serta kepedulian terhadap sesama. Ia menilai, generasi muda perlu dipersiapkan untuk menghadapi perubahan teknologi sekaligus mampu menjawab tantangan pembangunan di daerahnya sendiri.
“Prioritas kita adalah menyekolahkan anak-anak. Mereka harus mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang bisa digunakan untuk membangun daerahnya. Kalau kita ingin NTT maju, kita harus mulai menyiapkan manusianya dari sekarang,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan gagasan untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki keterampilan di bidang teknik dan manufaktur. Salah satu gagasan yang disampaikannya adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk mempelajari teknologi permesinan, termasuk melalui pendidikan di luar negeri, agar kelak dapat mengembangkan industri dan menghasilkan mesin yang dibutuhkan masyarakat.
Menurut Viktor, kemampuan mengembangkan teknologi sendiri akan membantu daerah mengurangi ketergantungan terhadap produk dari luar. Teknologi pengolahan rumput laut, mesin pengering, peralatan produksi pakan ternak, hingga mesin pengolahan hasil pertanian dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sesuai kebutuhan ekonomi lokal.
Ia turut mendorong kolaborasi antara lembaga pendidikan, perguruan tinggi, pemerintah desa, dan pelaku usaha agar gagasan tersebut dapat dirancang menjadi program yang terukur.
Selain pendidikan, persoalan infrastruktur menjadi salah satu aspirasi yang disampaikan masyarakat Kupang Barat. Warga mengeluhkan kondisi sejumlah ruas jalan dan jembatan yang membutuhkan perhatian, termasuk akses menuju wilayah Oed Suh dan Batu Lesa.
Menanggapi aspirasi tersebut, Viktor mengakui masih terdapat persoalan infrastruktur yang perlu diselesaikan. Ia menyebut pengalaman saat menjabat Gubernur NTT memberinya pemahaman mengenai kondisi sejumlah wilayah dan kesulitan yang dihadapi masyarakat dalam mengakses fasilitas dasar.
Meski demikian, ia menjelaskan bahwa ruang fiskal pemerintah saat ini menghadapi tantangan akibat efisiensi anggaran dan penyesuaian prioritas pembangunan. Karena itu, penanganan infrastruktur perlu mempertimbangkan kewenangan pemerintah, ketersediaan anggaran, serta tingkat kebutuhan masyarakat.
“Saya memahami kesulitan masyarakat terkait jalan dan jembatan. Saya akan terus melihat peluang agar ruas-ruas yang menjadi prioritas bisa diperjuangkan. Saya tidak ingin menjanjikan semua jalan selesai sekaligus, tetapi kebutuhan yang paling mendesak harus kita perjuangkan,” katanya.
Viktor menyatakan akan mendorong koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan persoalan infrastruktur yang menjadi kewenangan kabupaten dapat ditindaklanjuti. Ia juga meminta timnya mencatat aspirasi masyarakat agar dapat dikaji dan disesuaikan dengan program serta sumber pembiayaan yang tersedia.
Dalam pertemuan itu, masyarakat turut menyampaikan kebutuhan benih bawang merah untuk mendukung kegiatan pertanian. Viktor meminta timnya memeriksa ketersediaan benih di Kupang dan menyiapkan bantuan pengadaan apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi.
Ia mengusulkan agar bantuan benih disertai komitmen sosial. Hasil panen diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi petani sekaligus mendukung kebutuhan sekolah anak-anak di lingkungan masyarakat.
Viktor juga menanggapi aspirasi mengenai pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk kegiatan sanggar seni dan usaha produktif yang dapat membuka peluang pendapatan bagi warga.
Ia menyatakan dukungan terhadap inisiatif masyarakat yang memiliki perencanaan jelas, pengelolaan yang baik, dan peluang untuk berkembang. Menurut dia, bantuan usaha harus disertai kesiapan sumber daya manusia, peralatan, bahan baku, serta akses pemasaran agar mampu menghasilkan manfaat berkelanjutan.
“Kegiatan usaha perlu dirancang dengan baik. Kita harus menghitung kebutuhannya, menyiapkan orang yang mengelola, memastikan bahan bakunya tersedia, dan memikirkan pemasarannya. Dengan begitu, usaha bisa tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peluang pengembangan rumput laut di wilayah pesisir Kupang Barat. Menurut Viktor, potensi tersebut perlu didukung dengan penguatan budidaya, ketersediaan bibit berkualitas, teknologi pengolahan, dan peningkatan nilai tambah produk.
Ia mendorong masyarakat agar tidak berhenti pada penjualan hasil panen mentah. Pengolahan menjadi produk turunan dapat membuka kesempatan usaha baru sekaligus memperluas pasar bagi produk lokal.
Bagi Viktor, pengembangan ekonomi daerah perlu berjalan seiring dengan pendidikan dan peningkatan keterampilan. Ketiganya menjadi bagian penting dalam mempersiapkan masyarakat agar mampu mengelola sumber daya secara mandiri.
Dalam kesempatan tersebut, Viktor mengapresiasi respons Pemerintah Kabupaten Kupang terhadap persoalan masyarakat. Ia mendorong para kepala desa, lurah, dan pemangku kepentingan setempat untuk aktif berkoordinasi serta mengawal kebutuhan warga hingga masuk dalam perencanaan pembangunan.
Menurut dia, persoalan yang dihadapi masyarakat tidak seluruhnya dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Sejumlah kebutuhan memerlukan proses administrasi, penganggaran, dan koordinasi lintas pemerintahan. Karena itu, komunikasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan wakil rakyat perlu dijaga agar aspirasi dapat ditindaklanjuti secara tepat.
Viktor juga menekankan bahwa perhatian terhadap kelompok masyarakat yang mengalami keterbatasan ekonomi harus menjadi bagian dari agenda pembangunan. Akses pendidikan, kesempatan bekerja, dan kemampuan membangun usaha merupakan unsur penting untuk memperluas kesejahteraan.
Ia berharap pertemuan reses tersebut dapat menjadi awal bagi tindak lanjut yang lebih terarah terhadap kebutuhan masyarakat Kupang Barat, terutama dalam bidang pendidikan, infrastruktur, pertanian, dan pengembangan ekonomi lokal.
“Pembangunan harus dimulai dengan menyiapkan manusia yang mampu mengelola potensi daerahnya. Kita perlu bekerja bersama agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, masyarakat memiliki kesempatan berusaha, dan kekayaan daerah benar-benar memberikan kesejahteraan bagi rakyat,” kata Viktor.
Reses DPR RI menjadi salah satu sarana bagi anggota dewan untuk bertemu langsung dengan konstituen, menyerap aspirasi masyarakat, serta menghimpun persoalan yang perlu diperjuangkan melalui fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan DPR.
Di Kupang Barat, aspirasi warga memperlihatkan bahwa akses pendidikan, perbaikan infrastruktur, dan pengembangan potensi ekonomi lokal masih menjadi agenda penting bagi pembangunan wilayah tersebut ke depan. (bronto/*)
0 Komentar