Oleh: N.D. Santoso
Tim Media Center DPP NasDem
KITA hidup di zaman yang aneh. Semua orang ingin terlihat bahagia. Semua orang ingin terlihat kuat. Semua orang ingin terlihat berhasil.
Tetapi diam-diam, banyak yang sedang lelah menjadi dirinya sendiri. Timeline penuh pencapaian. Feed penuh pencitraan. Story penuh validasi. Semua berlomba terlihat paling sukses, paling produktif, paling estetik, paling layak dikagumi.
Namun, di balik layar, banyak manusia modern sedang bertarung dengan hal-hal yang tak terlihat, seperti overthinking, anxiety, kesepian, burnout, dan rasa kosong yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kita hidup di era ketika orang bisa tertawa di depan kamera, lalu merasa hampa beberapa menit setelahnya.
‘Hilang arah’ kini tidak selalu tampak berantakan. Kadang justru dibungkus sangat rapi. Ada yang terlihat baik-baik saja, padahal sedang kehilangan dirinya sendiri pelan-pelan. Ironisnya, semakin modern dunia bergerak, semakin sulit manusia melepaskan sesuatu dari dirinya sendiri.
Dan mungkin, di situlah makna kurban menjadi begitu relevan hari ini. Sebab sejak awal, esensi kurban sebenarnya tidak pernah sekadar tentang hewan yang disembelih. Melainkan tentang apa yang paling sulit dilepas manusia.
Dulu, Ismail adalah sosok anak yang sangat dicintai oleh ayahnya, Nabi Ibrahim. Sesuatu yang begitu dekat dengan hati, begitu dijaga, begitu sulit untuk direlakan.
Tetapi hari ini, ‘Ismail’ itu berubah bentuk yang memiliki banyak nama, yaitu ego, ambisi, obsesi validasi, popularitas, gengsi sosial, atau rasa ingin selalu dianggap penting.
Dan jujur saja, sering kali yang paling sulit dikurbankan manusia modern bukan hartanya, tetapi egonya. Kita hidup di era ketika manusia makin takut tidak dianggap. Takut tidak dipuji. Takut tidak dilihat. Takut tertinggal. Takut kalah dari kehidupan orang lain yang muncul di layar setiap hari. Sampai akhirnya, hidup berubah menjadi panggung yang melelahkan.
Semua harus terlihat sempurna. Makan difoto. Sedih dijadikan konten. Bahagia dijadikan pencitraan. Bahkan luka kadang diunggah bukan untuk sembuh, tetapi agar mendapat perhatian.
Dan tanpa sadar, algoritma perlahan mengubah manusia menjadi produk yang terus menjual dirinya sendiri. Kita seperti haus di tengah lautan air asin. Semakin banyak meneguk validasi, semakin kosong yang dirasakan.
Padahal, dahulu manusia diajarkan bahwa salah satu bentuk tertinggi dari keikhlasan adalah memberi tanpa perlu diketahui siapa-siapa. Hari ini, bahkan kepedulian sering berubah menjadi pertunjukan. Sedekah direkam. Bantuan dijadikan branding. Kebaikan dipoles menjadi strategi engagement.
Kadang kita terlalu sibuk menunjukkan kepedulian, sampai lupa benar-benar peduli. Dunia modern berhasil membuat manusia terkoneksi dengan banyak orang, tetapi perlahan terasing dari dirinya sendiri.
Dan di titik itulah Idul Adha seperti datang mengetuk manusia modern secara pelan. Bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki. Tetapi juga tentang melepaskan. Tentang memahami bahwa tidak semua hal harus dimenangkan. Tidak semua hal harus diumumkan. Dan tidak semua hal harus membuat kita menjadi pusat perhatian.
Generasi milenial mungkin memahami kurban sebagai simbol perjuangan hidup. Mereka hidup di tengah tekanan ekonomi, tuntutan sukses, dan kerasnya realitas. Banyak yang terlihat mapan, tetapi diam-diam lelah bertahan. Bekerja sampai lupa beristirahat. Mengejar target sampai lupa menikmati hidup. Terlihat stabil dari luar, tetapi sering merasa kosong ketika sendirian.
Sementara Generation Z tumbuh di tengah algoritma yang terus membandingkan hidup manusia. Mereka dipaksa melihat pencapaian orang lain setiap hari. Dipacu untuk terus relevan. Didorong untuk terus terlihat menarik, cerdas, produktif, dan ‘worth it’. Akibatnya, banyak yang kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Mereka tahu banyak hal, tetapi bingung memahami hidupnya sendiri. Dan mungkin itu sebabnya banyak anak muda hari ini sebenarnya haus makna, meski sering tidak tahu harus mencarinya ke mana.
Lalu datanglah Generation Alpha, generasi yang lahir ketika layar sudah menjadi bagian dari kehidupan sejak kecil. Mereka akan tumbuh di dunia yang serba cepat, serbuan AI, dopamine instan, rentetan video pendek, dan juga perhatian yang makin pendek. Mereka mungkin akan menjadi generasi paling cerdas secara teknologi. Tetapi belum tentu paling kuat secara mental dan emosional.
Dunia modern mengajarkan manusia cara mendapatkan segalanya dengan cepat, tetapi tidak mengajarkan cara mengosongkan diri. Padahal, manusia tidak hancur karena terlalu sedikit memiliki. Sering kali manusia hancur karena terlalu banyak menggenggam. Mungkin karena itu manusia sesekali perlu kehilangan. Agar sadar bahwa dirinya tidak pernah benar-benar memiliki apa pun.
Dan mungkin itulah pesan terdalam kurban yang mulai terlupakan. Bahwa ada saatnya manusia harus belajar merelakan agar tidak kehilangan dirinya sendiri. Bahwa tidak semua yang dicintai harus dimiliki sepenuhnya. Bahwa ego juga bisa menjadi berhala modern.
Mungkin, hari ini kita tidak lagi diminta mengorbankan ‘Ismail’ seperti kisah Nabi Ibrahim. Tetapi kita diminta menyembelih hal-hal lain yang diam-diam menguasai hidup kita, seperti keserakahan, kesombongan, ketergantungan validasi, dan rasa ingin selalu menjadi pusat dunia.
Karena pada akhirnya, yang paling sulit dikorbankan manusia modern sering kali bukan uangnya. Tetapi egonya. Dan mungkin pertanyaan terbesar Idul Adha hari ini bukan lagi tentang hewan apa yang kita sembelih? Melainkan pertanyaan, ego apa yang sebenarnya belum mampu kita lepaskan?
Sebab jangan-jangan, di zaman hari ini, yang paling sulit bersujud bukan tubuh manusia melainkan egonya. Dan mungkin, yang paling perlu disembelih hari ini bukan lagi sekadar hewan kurban, tetapi rasa ingin menjadi pusat semesta. Karena di tengah dunia yang semakin bising oleh pencitraan, kurban mungkin adalah salah satu cara terakhir agar manusia tetap belajar menjadi manusia.
0 Komentar