SOE (23 Juli): Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem dari Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) II, Viktor Bungtilu Laiskodat, menegaskan bahwa masa depan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) tidak cukup hanya ditopang oleh peningkatan produksi pertanian.
Menurutnya, kesejahteraan masyarakat baru akan tercapai apabila pembangunan pertanian dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, dipadukan dengan penguatan pendidikan, infrastruktur, industri kreatif, dan pengembangan pariwisata.
Pandangan tersebut disampaikan Viktor saat menggelar kegiatan reses di Desa Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan itu dihadiri Wakil Bupati TTS Army Konay, jajaran Pemerintah Kabupaten TTS, tokoh masyarakat, kelompok tani, serta ratusan warga dari sejumlah kecamatan.
“Kalau kita hanya menjadi petani sawah, kita tidak akan maju. Kita harus memiliki sawah sekaligus menjadi pemilik usaha pengolahan dan pemasaran hasilnya. Di negara-negara maju, mereka menguasai semuanya, dari hulu sampai hilir,” jelas Viktor.
Dalam pertemuan tersebut, Viktor memastikan akan terus mendorong pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pertanian, untuk memperluas program cetak sawah baru di TTS. Bahkan, Desa Oebelo disebut telah masuk dalam lokasi prioritas yang diusulkan kepada pemerintah pusat.
Namun, menurut mantan Gubernur NTT itu, pembangunan pertanian tidak boleh berhenti pada perluasan lahan produksi.
Ia menggambarkan rendahnya nilai tambah yang diterima petani apabila hanya menjual gabah. Sebaliknya, keuntungan akan meningkat berlipat ketika hasil pertanian diolah hingga menjadi produk siap konsumsi.
“Kalau kita hanya menjual gabah, kita belum menghitung tenaga kerja yang kita keluarkan. Tetapi kalau kita mengolahnya sampai menjadi makanan yang dijual kepada masyarakat, nilai ekonominya jauh lebih tinggi. Itu yang harus kita bangun,” katanya.
Oleh karena itu, ia mendorong lahirnya industri pengolahan pangan, rumah makan, hingga usaha kecil berbasis hasil pertanian yang dimiliki masyarakat sendiri.
Selain sektor pertanian, Viktor menilai kawasan selatan TTS memiliki karakter geografis yang sangat langka dan berpotensi menjadi destinasi wisata unggulan nasional.
Ia menggambarkan bentang alam TTS yang memungkinkan wisatawan menikmati kawasan pantai dan wilayah beriklim panas, lalu hanya dalam waktu sekitar satu setengah jam dapat mencapai kawasan pegunungan berhawa dingin.
“Jarang ada tempat seperti Timor Tengah Selatan. Orang bisa menikmati pantai dan kawasan panas, lalu tidak lama kemudian berada di daerah pegunungan yang sangat sejuk. Ini kekayaan alam yang luar biasa dan harus dirancang dengan baik,” ujarnya.
Menurut Viktor, potensi tersebut membutuhkan perencanaan pembangunan jangka panjang yang terintegrasi agar mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.
Meski demikian, Viktor mengakui pembangunan infrastruktur di TTS saat ini menghadapi keterbatasan anggaran nasional.
Ia menjelaskan kondisi fiskal pemerintah masih terpengaruh oleh situasi ekonomi global yang berdampak pada kemampuan negara membiayai pembangunan.
“Saya tidak pernah mengatakan infrastruktur tidak penting. Justru infrastruktur adalah syarat utama daerah bisa maju. Tetapi kita juga harus memahami bahwa kondisi anggaran negara sedang menghadapi tantangan sehingga banyak proyek belum bisa berjalan secepat yang diharapkan,” katanya.
Ia memastikan akan terus memperjuangkan pembangunan jalan, jembatan, serta sarana pendukung lainnya setelah kondisi fiskal nasional kembali membaik.
Dalam kesempatan itu Viktor juga menekankan bahwa pendidikan merupakan investasi paling penting untuk memutus rantai kemiskinan.
Ia mendorong generasi muda TTS agar tidak hanya menempuh pendidikan di daerah sendiri, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar di luar NTT untuk memperluas wawasan.
“Sekolah memang tidak otomatis membuat seseorang sukses. Tetapi sekolah memperbesar peluang seseorang untuk sukses. Karena itu anak-anak harus terus didorong belajar dan melihat dunia yang lebih luas,” katanya.
Viktor mengungkapkan Partai NasDem akan terus mendukung pengiriman pelajar asal TTS untuk melanjutkan pendidikan di berbagai daerah, termasuk Yogyakarta.
Salah satu penekanan utama Viktor dalam reses tersebut adalah pentingnya meningkatkan akses pendidikan bagi perempuan.
Menurut dia, kemajuan sebuah daerah sangat ditentukan oleh kualitas perempuan yang menjadi bagian utama dalam pembangunan keluarga dan masyarakat.
“Kalau perempuan maju, Timor Tengah Selatan juga akan maju. Karena perempuan yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas. Maka pendidikan perempuan harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Ia bahkan menyatakan siap membantu masyarakat yang mengalami kesulitan biaya pendidikan, khususnya bagi anak-anak perempuan yang ingin melanjutkan sekolah.
Selain pertanian pangan, Viktor juga meminta Pemerintah Kabupaten TTS memperkuat pengembangan tenun ikat sebagai identitas budaya sekaligus sumber ekonomi masyarakat.
Ia mengusulkan dibentuk pusat pembelian tenun yang mampu menyerap hasil produksi para penenun secara berkelanjutan sehingga masyarakat memiliki kepastian pasar.
“Kalau tenun tidak pernah dibeli, orang akan berhenti menenun. Kalau itu terjadi, kita kehilangan identitas budaya kita,” katanya.
Di sisi lain, Viktor menilai kawasan selatan TTS juga memiliki potensi besar untuk pengembangan industri garam sebagaimana telah berhasil dilakukan di sejumlah wilayah lain di NTT.
Menurut dia, pengembangan investasi harus dibangun melalui komunikasi yang baik dengan masyarakat agar tidak memunculkan konflik sosial.
Dalam sesi dialog, masyarakat dari sejumlah kecamatan menyampaikan berbagai kebutuhan pembangunan.
Perwakilan masyarakat Kecamatan Kolbano meminta bantuan bibit bawang merah, dukungan modal bagi kelompok tenun, serta pengembangan komoditas unggulan.
Masyarakat Kecamatan Kualin mengusulkan pembangunan cetak sawah baru di Desa Toineke, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pembangunan jaringan irigasi.
Masyarakat Kecamatan Noebeba berharap pemerintah memberi perhatian terhadap pembangunan akses jalan yang hingga kini masih menjadi kendala utama.
Tokoh masyarakat Desa Oebelo, Meo Babys, juga mengusulkan pengembangan komoditas asam sebagai pangan lokal unggulan serta bantuan alsintan bagi petani.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati TTS Army Konay menyampaikan bahwa pemerintah daerah masih menghadapi tantangan besar pada sektor pertanian dan infrastruktur yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Asisten III Setda TTS yang juga Kepala Bappeda TTS, Nikson D.E. Nomleni, menjelaskan TTS saat ini menjadi lokasi sejumlah program strategis nasional, di antaranya pembangunan SMA Garuda dan Sekolah Rakyat.
Namun, pembangunan SMA Garuda masih terkendala belum tersedianya akses jalan menuju lokasi.
“Kami meminta dukungan Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat agar pembangunan akses jalan menuju SMA Garuda dapat menjadi perhatian pemerintah pusat,” ujar Nikson.
Menutup kegiatan reses, Viktor memastikan seluruh aspirasi masyarakat akan diperjuangkan melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan di DPR RI.
“Semua aspirasi yang saya terima hari ini akan saya kawal di tingkat nasional. Pertanian, pendidikan, infrastruktur, pemberdayaan perempuan, pengembangan tenun, hingga hilirisasi ekonomi harus menjadi bagian dari agenda pembangunan TTS. Daerah ini memiliki potensi besar, dan potensi itu harus benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat,” tutup Viktor. (bronto/*)
0 Komentar