MANGGARAI (22 Agustus): Enam hari setelah gempa bumi mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian warga masih menjalani kehidupan di bawah terpal. Rumah yang rusak dan gempa susulan membuat mereka belum merasa aman untuk kembali. Di sejumlah desa, bantuan logistik pun masih menjadi kebutuhan mendesak.
Kondisi itu mendorong gerakan NasDem Peduli terus bergerak menjangkau warga, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terpencil dan belum mendapatkan bantuan. Sejak dua jam setelah gempa, kader NasDem telah menyusuri sejumlah titik pengungsian untuk memastikan kebutuhan mendasar seperti air minum dan makanan dapat dijangkau warga.
Pada hari keenam pascagempa (21/8/2026), gerakan kemanusiaan itu kembali menyisir sejumlah wilayah terdampak di Manggarai, Manggarai Timur, hingga Ngada. Ketua Fraksi NasDem DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat bersama anggota DPR RI Fraksi NasDem dari Daerah Pemilihan NTT I, Julie Sutrisno Laiskodat, ikut turun langsung menemui warga.
Di Desa Lalong, Kecamatan Wae Ri’i, sebagian warga masih memilih tinggal di tenda darurat setelah rumah mereka mengalami kerusakan. Di antara mereka terdapat Darius Nus, 81 tahun. Rumah Darius rusak akibat gempa. Bersama keluarga, ia memilih bertahan di tenda yang dibangun secara mandiri bersama warga lain. Gempa susulan yang masih dirasakan membuatnya belum berani kembali ke rumah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian NasDem Peduli. Sebanyak 605 paket sembako disalurkan kepada warga Desa Lalong untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar selama masa pengungsian. Julie mengatakan, kebutuhan warga tidak berhenti setelah bantuan pertama diterima. Selama rumah belum aman ditempati, kebutuhan pangan, air bersih, selimut, dan perlengkapan lainnya tetap harus diperhatikan.
“Saudara-saudara kita di Flores masih memilih tidur di dalam tenda, menjaga anak-anak dan orang-orang tercinta di bawah langit terbuka karena rumah mereka belum terasa aman untuk ditempati,” kata Julie.
Ia menilai kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan membutuhkan waktu dan perhatian yang berkelanjutan.
“Saya membayangkan betapa tidak mudahnya menjalani hari dengan rasa waswas, sambil tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dan menjaga satu sama lain,” ujar Julie.
Dari Lalong, perjalanan Nasdem Peduli bergerak menuju wilayah Manggarai Timur. Di Desa Bangka Arus, Kecamatan Lamba Leda Timur, sekitar 1.240 warga atau hampir 350 keluarga masih berada di luar rumah. Warga membangun tenda secara mandiri menggunakan bahan yang tersedia. Terpal yang biasanya digunakan untuk menjemur hasil pertanian kini menjadi pelindung keluarga dari panas dan hujan. Di wilayah seperti Bangka Arus, persoalan geografis menjadi tantangan tersendiri. Akses jalan yang sulit membuat distribusi bantuan tidak selalu mudah. Karena itu, NasDem Peduli berupaya membawa bantuan langsung kepada warga di lokasi yang belum memperoleh bantuan darurat.
Bupati Manggarai Timur Agas Andreas menyatakan, kondisi geografis dan akses jalan yang sulit menjadi salah satu kendala utama dalam distribusi bantuan. Dukungan dari berbagai pihak, menurut dia, penting untuk mempercepat penanganan masyarakat terdampak sekaligus membantu proses pemulihan.
Bagi Viktor, kondisi seperti itu justru menunjukkan pentingnya memastikan distribusi bantuan tidak hanya berhenti di wilayah yang mudah dijangkau.
“Yang paling penting adalah memastikan masyarakat yang terdampak tidak terlewat dalam penanganan. Bantuan harus sampai kepada mereka, terutama warga yang berada di lokasi yang sulit dijangkau,” kata Viktor.
Dari Bangka Arus, rombongan NasDem Peduli berlanjut ke Kampung Kalo, Kelurahan Golo Wangkung, Kecamatan Congkar, Manggarai Timur, di lokasi ini sejumlah keluarga masih bertahan di tenda darurat. Rumah-rumah warga mengalami kerusakan, begitu pula sejumlah fasilitas umum seperti sekolah dan puskesmas.
Di tempat itu, Julie tidak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga mendengarkan cerita warga mengenai kondisi mereka setelah gempa. Kebutuhan warga mulai memperlihatkan lapisan persoalan yang lebih luas. Pangan dan air bersih tetap menjadi kebutuhan utama, tetapi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia juga membutuhkan perhatian kesehatan.
Julie mengatakan, kunjungan ke lokasi terdampak penting untuk melihat kebutuhan warga secara langsung.
“Kita datang untuk mendengar dan melihat langsung apa yang dibutuhkan warga. Dari sana kita bisa mengetahui bantuan apa yang paling mendesak dan bagaimana dukungan berikutnya harus diberikan,” kata Julie.
Ia juga menyoroti pentingnya pembangunan kembali rumah dengan konstruksi yang lebih kuat. Beberapa rumah warga menggunakan batu yang belum diplester sehingga relatif rentan ketika terjadi guncangan. Pemulihan, menurut Julie, harus memberi rasa aman kepada keluarga ketika mereka kembali menempati rumah.
Dari Kampung Kalo, perjalanan dilanjutkan menuju Nanga Baras. Di Kelurahan Nanga Baras, Kecamatan Sambi Rampas, Manggarai Timur, tenda darurat kembali menjadi tempat tinggal sementara bagi warga.
Di bawah naungan terpal yang menjadi atap, dengan tikar dan kasur busa tipis di atas tanah, Julie bertemu Nurti, seorang ibu yang usia kehamilannya telah memasuki delapan bulan. Pertemuan itu memperlihatkan bagaimana bencana memberi dampak berbeda kepada setiap keluarga. Bagi ibu hamil, anak-anak, dan lansia, kehidupan di tenda membutuhkan perhatian lebih, terutama terkait kesehatan, makanan, air bersih, dan tempat beristirahat yang layak.
Enam hari setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur, sebagian warga masih harus menjalani keseharian dalam keterbatasan.
“Pemulihan membutuhkan waktu, ketekunan, dan kebersamaan. Mereka sedang melalui masa yang berat, dan perhatian dari banyak pihak dapat menjadi kekuatan untuk melewati hari-hari ini,” kata Julie.
Dari Manggarai Timur, bantuan kemudian bergerak ke wilayah pesisir utara Flores, Desa Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Angin malam dari pesisir Desa Tadho berembus di antara tenda-tenda pengungsian. Di Kampung Bajo, warga terdampak gempa bertahan dengan tikar dan kasur busa tipis di bawah terpal.
Desa Tadho berada di kawasan pesisir utara Flores, dengan permukiman warga berjarak sekitar 50-100 meter dari bibir pantai. Kepada Julie, warga menceritakan pengalaman saat gempa terjadi. Air laut sempat surut sebelum kembali naik dengan gelombang yang cukup tinggi.
Warga bergegas meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih tinggi. Setelah keadaan mereda, persoalan lain menunggu. Pakaian tertimbun akibat kerusakan rumah. Air bersih terbatas. Tempat tidur, selimut, makanan, dan tenda yang lebih layak menjadi kebutuhan sehari-hari.
“Ketika mendengar langsung curahan hati warga, terutama para ibu, terasa jelas bahwa kebutuhan mereka sangat mendasar. Mereka membutuhkan makanan, air bersih, tempat beristirahat yang layak, pakaian, dan perlengkapan sehari-hari,” kata Julie.
NasDem Peduli kemudian menyerahkan 500 paket kebutuhan pokok kepada warga Desa Tadho. Bagi Julie, bantuan tersebut harus menjadi bagian dari rangkaian dukungan yang berkelanjutan. Kebutuhan warga akan berubah seiring dengan berjalannya masa pengungsian, sehingga distribusi bantuan perlu terus disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
“Bantuan harus terus bergerak menuju tempat-tempat yang belum terjangkau. Kita perlu memastikan keluarga yang berada di pelosok juga mendapatkan perhatian dan kebutuhan dasarnya terpenuhi,” ujarnya.
Rangkaian perjalanan dari Lalong, Bangka Arus, Kampung Kalo, Nanga Baras hingga Tadho menunjukkan bahwa kebutuhan warga terdampak gempa masih jauh dari selesai.
Di satu tempat, warga membutuhkan beras dan air. Di tempat lain, tenda dan terpal menjadi kebutuhan mendesak. Di lokasi berbeda, ibu hamil, anak-anak, dan lansia membutuhkan perhatian kesehatan. Sementara keluarga yang rumahnya rusak mulai membutuhkan kepastian mengenai tempat tinggal yang lebih aman.
Oleh karena itu, distribusi bantuan logistik terus diarahkan ke desa-desa yang belum mendapatkan bantuan. Tantangan jarak, medan, dan akses jalan tidak boleh membuat warga di pelosok luput dari perhatian.
Viktor menilai kerja kemanusiaan perlu berjalan beriringan dengan pendataan kerusakan dan kebutuhan warga. Data dari desa menjadi pijakan untuk menentukan dukungan berikutnya, termasuk penanganan rumah dan fasilitas umum yang terdampak.
“Penanganan bencana membutuhkan kerja bersama. Bantuan darurat harus sampai kepada masyarakat, sementara data kerusakan harus terus diperbarui agar langkah pemulihan dapat dilakukan dengan tepat,” kata Viktor.
Julie menambahkan, perhatian terhadap korban gempa tidak boleh berhenti ketika masa tanggap darurat mulai berlalu.
“Dalam situasi seperti ini, kita perlu terus bergandengan tangan. Mendengar warga, memahami kebutuhan mereka, dan hadir dalam proses pemulihan adalah bentuk kepedulian yang penting,” ujarnya.
Di antara tenda-tenda yang berdiri di halaman rumah, lapangan, dan ruang terbuka, kehidupan warga Flores perlahan mencari bentuknya kembali. Bantuan pangan memenuhi kebutuhan hari ini, sementara pendataan dan pemulihan menjadi pekerjaan yang harus diteruskan.
Bagi keluarga yang masih tidur di bawah terpal, kedatangan bantuan membawa pesan sederhana: mereka tidak dilupakan.
“Flores adalah rumah bagi saudara-saudara kita. Mari terus bergandengan tangan, menjaga kepedulian dan menghadirkan rasa bahwa dalam masa sulit ini, mereka tidak berjalan sendirian,” kata Julie. (bronto/*)
0 Komentar