RUTENG (20 Agustud): Sebuah bengkel mebel di Jalan Gewak, Kecamatan Langke Rembong, Ruteng, Kabupaten Manggarai, berubah fungsi menjadi tempat berlindung bagi puluhan warga penyandang disabilitas setelah gempa mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026. Di tempat yang sederhana itu, kebutuhan dasar dan pendampingan menjadi perhatian karena sebagian pengungsi menghadapi keterbatasan dalam mengevakuasi diri ketika gempa terjadi.
Semula, posko tersebut hanya ditempati lima keluarga. Jumlah pengungsi kemudian bertambah hingga puluhan orang, termasuk anak-anak, setelah sejumlah tempat tinggal warga mengalami kerusakan akibat gempa.
Bagi penyandang disabilitas, situasi pascagempa menghadirkan persoalan tersendiri. Akses keluar saat guncangan terjadi tidak selalu mudah, sementara kebutuhan selama berada di pengungsian juga lebih spesifik.
Relawan posko, Andre Rohi, mengatakan keterbatasan mobilitas membuat sebagian warga disabilitas kesulitan menyelamatkan diri ketika gempa terjadi.
“Kondisi saat ini sangat membuat kami kesulitan, terutama untuk teman-teman disabilitas. Mereka kewalahan mencari jalan keluar dan melakukan evakuasi,” ujar Andre.
Menurut dia, kebutuhan makanan pada hari-hari awal sempat menjadi persoalan. Namun, bantuan yang mulai berdatangan membuat kebutuhan pangan para pengungsi sejauh ini dapat terpenuhi.
Persoalan lain muncul dari kondisi cuaca di Ruteng yang relatif dingin. Posko masih membutuhkan kasur dan selimut untuk memastikan para pengungsi dapat beristirahat dengan lebih layak.
“Untuk menghadapi cuaca dingin di Ruteng, kami masih kekurangan selimut dan kasur untuk tidur,” kata Andre.
Kebutuhan pengungsi tidak berhenti pada makanan dan tempat beristirahat. Bagi warga penyandang disabilitas, terutama tunanetra, pengalaman menghadapi gempa juga meninggalkan trauma yang dirasakan hingga setelah berada di posko.
Maria Diana, salah seorang pengungsi tunanetra, mengatakan keterbatasan penglihatan membuat dirinya dan warga tunanetra lainnya menghadapi kesulitan ketika harus mengevakuasi diri bersama anak-anak.
“Terutama anak-anak kami, mereka trauma sekali. Sebagai orang tua yang disabilitas, kami juga kesulitan menangani trauma mereka,” ujar Diana.
Ia menuturkan, situasi menjadi semakin sulit ketika gempa kembali terjadi pada saat warga sedang beristirahat. Membuka pintu dan membawa anak keluar dari tempat tidur membutuhkan bantuan orang lain.
“Ketika gempa datang, anak kami harus membuka pintu, sementara kami tidak bisa melihat. Susah sekali mengondisikannya,” katanya.
Oleh karena itu, Diana berharap ada pembekalan dan pendampingan untuk membantu para pengungsi menghadapi trauma, terutama mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan.
“Kami juga membutuhkan pembekalan dan pendampingan untuk menghilangkan rasa trauma, khususnya bagi kami yang tunanetra,” ujar Diana.
Bantuan tidak Berhenti pada Logistik
Kondisi tersebut menjadi perhatian anggota DPR RI Fraksi NasDem dari Daerah Pemilihan NTT I, Julie Sutrisno Laiskodat. Bersama Ketua Fraksi NasDem DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat, Julie meninjau langsung posko pengungsian warga disabilitas di Jalan Gewak.
Setibanya di Ruteng, keduanya langsung menuju lokasi pengungsian. Di sana, mereka bertemu dengan Maria Diana dan sekitar 20 penyandang tunanetra lainnya yang sejak gempa mengungsi di bengkel mebel milik warga yang secara sukarela membuka tempat tersebut sebagai posko sementara.
Tempat itu kemudian menjadi ruang bagi para pengungsi untuk beristirahat, menenangkan diri, dan saling menguatkan. Kesediaan pemilik bengkel memberikan tempat tanpa pungutan menjadi salah satu bentuk solidaritas warga di tengah situasi pascabencana.
Selain menyalurkan bantuan kebutuhan dasar, Julie menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi kelompok disabilitas. Menurut dia, respons terhadap bencana tidak cukup berhenti pada bantuan yang diberikan pada masa awal.
“Dari anak-anak sampai orang dewasa yang berkebutuhan khusus, teman-teman disabilitas harus kita bantu agar mereka bisa ditampung di tempat yang aman seperti ini,” ujar Julie.
Julie mengatakan tenaga ahlinya akan turut memantau kondisi para pengungsi untuk memastikan kebutuhan mereka terus teridentifikasi.
“Biasanya bantuan datang sekali, lalu selesai. Padahal, bagi mereka yang memiliki keterbatasan, kebutuhan dan pendampingannya harus berkelanjutan,” katanya.
Menurut Julie, perhatian terhadap penyandang disabilitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penanganan bencana. Mereka membutuhkan akses bantuan, perlindungan, informasi, serta pendampingan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
“Teman-teman disabilitas dari mana pun harus dibantu. Mereka membutuhkan perhatian dan dukungan yang sama, terutama dalam kondisi bencana seperti ini,” ujar Julie.
Kunjungan Julie dan Viktor berlangsung ketika senja mulai beralih menjadi malam. Di dalam bengkel yang kini menjadi tempat pengungsian, puluhan warga mencoba menjalani hari-hari setelah gempa dengan segala keterbatasan yang ada.
Bagi Julie, tempat itu memperlihatkan bagaimana solidaritas warga dapat menjadi bagian penting dalam menghadapi bencana. Sebuah ruang usaha yang untuk sementara berhenti menjalankan fungsi semula telah berubah menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang membutuhkan.
“Di tengah kesulitan, masih ada warga yang bersedia membuka tempatnya bagi sesama. Ini menunjukkan bahwa kekuatan masyarakat tumbuh dari kepedulian dan kebersamaan,” ujar Julie.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Laut Flores pada 15 Agustus 2026 berdampak pada sejumlah wilayah di NTT. Dalam situasi tersebut, kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, anak-anak, dan lanjut usia menghadapi tantangan yang berbeda dalam proses evakuasi maupun pemulihan.
Di Jalan Gewak, tantangan itu kini dijalani bersama. Ada relawan yang menjaga posko, warga yang membuka tempat, bantuan yang terus berdatangan, serta kebutuhan akan pendampingan yang masih harus dipenuhi.
Bengkel mebel itu pun menjadi lebih dari tempat berlindung sementara. Ia menjadi ruang yang mempertemukan kepedulian dengan kebutuhan dan mengingatkan bahwa dalam keadaan darurat, keselamatan dan kemanusiaan harus menjangkau semua orang, termasuk mereka yang paling membutuhkan pendampingan. (bronto/*)
0 Komentar