NGADA (22 Agustus): Misa baru saja dimulai ketika tanah Flores berguncang kuat pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Di Seminari St Brekhmans Todabelu Mataloko, Kabupaten Ngada, suasana perayaan Ekaristi yang semula khidmat seketika berubah. Para seminaris dan warga harus mencari tempat yang lebih aman setelah gempa mengguncang wilayah tersebut.
Lapangan seminari kemudian berubah menjadi ruang perlindungan sementara. Tenda-tenda didirikan untuk menampung para seminaris yang belum dapat kembali beraktivitas seperti biasa karena gempa susulan masih terjadi.
Sabtu (22/8) anggota DPR RI Fraksi NasDem Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) I, Julie Sutrisno Laiskodat, bersama rombongan NasDem Peduli, mendatangi Mataloko. Kedatangan itu menjadi kesempatan untuk melihat langsung kondisi para seminaris, berbincang dengan mereka, mendengarkan kebutuhan yang muncul selama berada di pengungsian, sekaligus menyalurkan bantuan.
Julie meninjau langsung Seminari Mataloko yang untuk sementara difungsikan sebagai posko bagi para seminaris terdampak gempa. Ia berdialog dengan para siswa untuk mengetahui kebutuhan mereka selama masa pengungsian.
Menurut Julie, perhatian terhadap kebutuhan para pengungsi perlu diberikan secara menyeluruh. Kondisi geografis Mataloko yang berada di wilayah dengan suhu relatif dingin membuat kebutuhan seperti alas tidur dan selimut menjadi penting.
“Di sini cuacanya cukup dingin. Karena itu, alas tidur dan selimut menjadi kebutuhan yang perlu diperhatikan agar para siswa tetap dapat beristirahat dengan baik dan terhindar dari gangguan kesehatan,” ujar Julie.
Julie mengatakan, kunjungan tersebut juga dilakukan untuk mendengar langsung para seminaris. Menurut dia, dalam situasi bencana, kebutuhan pengungsi tidak selalu dapat dipetakan hanya dari data atau laporan. Percakapan langsung membantu mengetahui persoalan yang mungkin luput dari perhatian.
“Kami datang untuk melihat keadaan mereka secara langsung, berdialog, mendengarkan mereka, dan mengetahui apa saja yang benar-benar dibutuhkan selama berada di pengungsian,” katanya.
Di antara tenda-tenda yang berdiri di lapangan seminari, kehidupan perlahan mulai ditata kembali. Para seminaris berusaha menjalani hari dengan kondisi yang ada.
Bagi anak-anak dan para seminaris muda, pengalaman gempa tersebut tentu bukan sesuatu yang mudah dilupakan. Guncangan yang datang ketika kegiatan keagamaan sedang berlangsung meninggalkan pengalaman yang mendalam. Karena itu, kehadiran orang-orang yang datang untuk mendengar dan menemani menjadi bagian penting dalam masa pemulihan.
Julie menilai dukungan kepada masyarakat terdampak perlu terus dilakukan selama kebutuhan di lapangan masih ada. Bantuan berupa kebutuhan dasar, menurut dia, harus berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kondisi para pengungsi.
“Kita saling menjaga dengan kemampuan yang kita miliki. Yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah kebersamaan, perhatian, dan dukungan agar mereka dapat melewati masa pengungsian dengan lebih tenang,” ujar Julie.
Dari Mataloko, perhatian itu tidak berhenti pada bantuan yang dibawa. Ia hadir melalui percakapan, sapaan, dan kesediaan untuk duduk bersama mereka yang sedang menjalani hari-hari di tenda pengungsian.
Di tengah gempa susulan yang masih membayangi, lapangan seminari menjadi tempat para seminaris menunggu keadaan benar-benar aman. Sementara itu, dukungan dari berbagai pihak terus dibutuhkan agar kebutuhan dasar mereka terpenuhi dan kegiatan kehidupan dapat perlahan ditata kembali.
Bagi Julie, memastikan para seminaris mendapatkan tempat yang layak untuk beristirahat, perlengkapan yang memadai, serta perhatian selama berada di pengungsian merupakan bagian dari kepedulian yang perlu dijaga dalam masa tanggap bencana.
Di Mataloko, pemulihan itu dimulai dari hal-hal yang dekat: memastikan mereka tidak kedinginan pada malam hari, mendengarkan cerita mereka, dan menemani mereka melewati hari-hari yang belum sepenuhnya pulih. (bronto/*)
0 Komentar