Home / Berita / Berita Fraksi
Berita Fraksi

Tenda Darurat dan Keteguhan Tenaga Medis di Boawae

đź“… 22 Agu 2026 đź’¬ 0 Komentar
Bagikan artikel:

NAGEKEO (22 Aguatua): Plafon yang jebol dan retak pada sejumlah bagian bangunan membuat Puskesmas Boawae, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tak lagi aman digunakan. Sejak gempa 15 Agustus 2026, pelayanan kesehatan dipindahkan ke tenda-tenda darurat di luar gedung. Di ruang terbuka itu, dokter dan perawat tetap merawat warga yang datang membutuhkan pertolongan.

Hingga 22 Agustus, sebanyak 78 warga telah mendapatkan penanganan medis pascagempa. Tujuh pasien masih menjalani perawatan intensif, terdiri atas lima pasien dengan luka berat dan sejumlah pasien lainnya yang membutuhkan pemantauan medis.

Kepala UPTD Puskesmas Boawae, Wilfrida Daeni, mengatakan perpindahan pelayanan dilakukan setelah kondisi bangunan dinilai tidak memungkinkan untuk digunakan seperti biasa. Koordinasi antara puskesmas, pemerintah kecamatan, masyarakat, dan sejumlah pihak dilakukan untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berlangsung.

“Untuk pelayanan kesehatan, karena gedung bangunan rusak berat, kami bersama Forkopimcam, pemerintah kecamatan, masyarakat, dan DPR melakukan koordinasi yang baik dan cepat untuk penanganan tenda darurat,” kata Wilfrida.

Tenda darurat yang digunakan sebagai ruang pelayanan diperoleh melalui bantuan NasDem Peduli. Fasilitas tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menjaga agar layanan kesehatan bagi masyarakat tetap tersedia meskipun bangunan utama belum dapat digunakan.

Wilfrida menuturkan pelayanan tetap diberikan kepada pasien rawat jalan maupun rawat inap dengan penanganan sesuai prosedur operasional standar. Tenaga medis juga tidak hanya menunggu pasien datang ke lokasi pelayanan darurat.

“Kita mobile, pelayanan kita secara mobile,” ujarnya.

Menurut dia, tim kesehatan bergerak ke sejumlah desa terdampak untuk menjangkau warga yang membutuhkan pertolongan. Dalam salah satu pelayanan lapangan, terdapat tiga dokter yang bekerja bersama perawat, petugas kesehatan lingkungan, serta tenaga promosi kesehatan.

Kondisi pascabencana juga memunculkan persoalan kesehatan baru. Selain luka akibat gempa, keluhan warga kini banyak berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan sesak napas. Cuaca dingin di sejumlah lokasi pengungsian turut memperberat kondisi sebagian warga.

Sepanjang masa tanggap darurat, tercatat delapan warga meninggal dunia. Dua orang sempat mendapatkan perawatan di Puskesmas Boawae, sedangkan enam lainnya meninggal di rumah. Berdasarkan keterangan yang diterima puskesmas, sebagian besar kematian tersebut berkaitan dengan serangan jantung yang terjadi saat gempa.

Kondisi itu membuat keberadaan tenaga kesehatan menjadi semakin penting. Selain pelayanan di tenda darurat, tim medis harus memastikan warga di lokasi pengungsian dan desa-desa yang mengalami dampak cukup berat tetap memperoleh akses pertolongan.

Anggota DPR RI Fraksi NasDem dari Daerah Pemilihan NTT I, Julie Sutrisno Laiskodat, melihat langsung pelayanan darurat tersebut saat mengunjungi Puskesmas Boawae bersama Tim NasDem Peduli. Kunjungan itu sekaligus dilakukan untuk menyerahkan bantuan dan mendengarkan kebutuhan tenaga kesehatan serta masyarakat terdampak.

“Dalam keadaan seperti ini, pelayanan kesehatan harus tetap berjalan. Gedungnya memang belum bisa digunakan, tetapi warga tetap membutuhkan dokter, perawat, obat-obatan, dan pertolongan medis,” ujar Julie.

Julie menyampaikan apresiasi kepada para tenaga kesehatan yang tetap bekerja di tengah keterbatasan fasilitas. Menurut dia, situasi bencana menuntut pelayanan kesehatan bergerak lebih dekat kepada masyarakat, terutama ketika akses terhadap fasilitas kesehatan ikut terganggu.

“Saya melihat sendiri bagaimana para tenaga kesehatan tetap bekerja dengan ruang dan fasilitas yang terbatas. Mereka tetap hadir melayani masyarakat dan bergerak mendatangi desa-desa terdampak,” katanya.

Bagi Julie, kebutuhan Puskesmas Boawae tidak berhenti pada penyediaan tenda darurat. Dukungan terhadap obat-obatan, perlengkapan medis, kebutuhan tenaga kesehatan, serta fasilitas pelayanan sementara perlu terus diperkuat selama bangunan utama belum aman digunakan.

Ia juga mengapresiasi koordinasi antara tenaga kesehatan, pemerintah setempat, masyarakat, dan berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan pascagempa.

“Terima kasih kepada seluruh tenaga kesehatan Puskesmas Boawae yang tetap berdiri bersama masyarakat dalam keadaan yang serba terbatas. Pelayanan mereka sangat penting untuk menjaga keselamatan warga sekaligus menjadi bagian dari proses pemulihan setelah bencana,” ujar Julie.

Di Puskesmas Boawae, tenda-tenda darurat kini menjadi ruang tempat warga mendapatkan pertolongan. Di sana, pelayanan kesehatan berlangsung dengan segala keterbatasannya, sementara para tenaga medis terus bergerak memastikan warga yang sakit tidak kehilangan akses terhadap perawatan. (bronto/*)

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *