Home / Berita / Opini
Opini

Serumpun Bukan Warisan Tapi Diwariskan

đź“… 20 Sep 2026 đź’¬ 0 Komentar
Bagikan artikel:

Oleh: N.D. Santoso

Tim Media Center DPP NasDem

Ada warisan yang bisa diberikan tanpa pernah benar-benar diterima. Sejarah adalah salah satunya.

Sebuah generasi bisa mewarisi tanggal, nama, peristiwa, bahkan cerita tentang siapa yang pernah menjadi saudara. Tetapi tidak ada jaminan generasi berikutnya akan mewarisi rasa dekat yang sama.

Sebab sejarah bisa diwariskan. Kedekatan tidak. Di situlah koneksitas Indonesia dan Malaysia menjadi menarik.

Kita terlalu mudah mengatakan keduanya bangsa serumpun. Seolah-olah kata itu cukup untuk menjaga sebuah hubungan tetap dekat. Padahal tidak. Serumpun bukan sekadar identitas yang diwariskan. Namun kedekatan yang harus terus dihidupkan.

Percakapan hangat Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dengan Presiden UMNO yang juga Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi di NasDem Tower, Jakarta, Sabtu malam, 19 September 2026, memperlihatkan lapisan yang lebih dalam daripada sekadar pertemuan dua pimpinan partai.

Ada sejarah. Ada politik. Ada kebudayaan. Tetapi yang paling menarik adalah manusia. Dan manusia itu bernama Ahmad Zahid.

Ia bercerita tentang kakeknya yang lahir di Yogyakarta. Tentang keluarga yang menggunakan bahasa Jawa. Tentang dirinya yang menyebut, “Kula tiyang Jawi.” Kisah itu kemudian bersambung pada pengalamannya ketika datang ke Yogyakarta membawa bantuan saat Gunung Merapi meletus.

Ketika kedatangannya dipertanyakan, Zahid menjawab dengan bahasa Jawa: “Dulure teko seka Malaysia arep ngrewangi kok malah diarani?”
Saudara datang dari Malaysia untuk membantu, mengapa justru dimarahi?

Seketika, hubungan dua negara tidak lagi terdengar seperti bahasa diplomasi. Tetapi sekaligus menjadi bahasa keluarga. Bahasa rumah. Bahasa ingatan.

Di hadapan peta, Indonesia dan Malaysia adalah dua negara. Di hadapan ingatan keluarga, keduanya bisa tetap menjadi saudara. Mungkin karena itu pula Zahid mengatakan, “Jangan pernah pisahkan Malaysia dan Indonesia.” Kalimat tersebut sederhana. Tetapi juga menyimpan sesuatu yang jauh lebih tua daripada politik.

Pemerintah bisa berganti. Presiden bisa berganti. Perdana Menteri bisa berganti. Partai bisa berevolusi. Tetapi hubungan antarmanusia tidak seharusnya ikut berganti setiap kali kekuasaan berubah.

Surya Paloh menangkap lapisan yang sama ketika menempatkan hubungan Indonesia-Malaysia sebagai hubungan yang memiliki kekhususan bukan semata hubungan yang dihitung dari untung dan rugi, melainkan hubungan dua bangsa serumpun dengan sejarah dan kebudayaan yang panjang. Ia juga mengaitkannya dengan kebutuhan memperkuat peran bersama di ASEAN.

Namun, justru di sini muncul paradoksnya. Sejarah yang sama tidak selalu melahirkan perasaan yang sama.

Generasi hari ini tidak mengalami Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Mereka tidak hidup dalam banyak peristiwa yang membentuk ingatan generasi sebelumnya. Mereka mengenal negara tetangga melalui layar. Melalui musik, pendidikan, bisnis bahkan media sosial.

Mereka bisa begitu dekat secara digital, tetapi belum tentu memiliki kedekatan emosional yang sama dengan generasi sebelumnya.

Maka pertanyaannya bukan lagi, apakah Indonesia dan Malaysia serumpun? Namun pertanyaan yang lebih penting adalah, apa yang membuat generasi berikutnya masih ingin merasa serumpun?

Di sinilah bagian lain dari pertemuan Surya dan Zahid menjadi penting. UMNO telah mengirimkan tim ke Partai NasDem untuk mempelajari training for trainers dan pola kaderisasi. Zahid juga mengatakan UMNO ingin mempelajari bagaimana mendekati dan merangkul Gen Z serta Gen Alpha dalam menyiapkan generasi kepemimpinan berikutnya.

Sekilas, ini adalah cerita tentang pendidikan politik. Tetapi maknanya bisa jauh lebih besar. Ini adalah cerita tentang regenerasi.

Sebuah hubungan yang ingin bertahan tidak cukup hanya memiliki orang-orang yang mengingat masa lalu. Melainkan membutuhkan generasi baru yang menemukan alasan untuk peduli pada masa depan.

Karena itu, kedekatan tidak cukup diceritakan tapi harus dialami. Sejarah tidak cukup diajarkan namun harus diberi makna baru. Budaya tidak cukup dipertontonkan melainkan harus menjadi ruang perjumpaan. Dan kata “serumpun” tidak cukup diucapkan, dan juga harus dirasakan. Di sinilah people-to-people menjadi lebih dari sekadar istilah diplomatik.

Hubungan Indonesia-Malaysia tidak akan kuat hanya karena para pemimpinnya sering bertemu. Relasi dan koneksi itu akan kuat jika masyarakat kedua negara memiliki cukup banyak alasan untuk saling mengenal, saling belajar, saling membutuhkan, dan saling percaya.

Mahasiswa belajar bersama. Pelaku usaha tumbuh bersama. Seniman berkarya bersama. Komunitas berjejaring bersama. Anak-anak muda berdiskusi tanpa merasa sedang berhadapan dengan “orang asing”.

Karena mungkin masa depan hubungan Indonesia-Malaysia tidak pertama-tama ditentukan di meja diplomasi. Tetapi ditentukan oleh seberapa dekat manusia Indonesia dan Malaysia merasa satu sama lain.

Dan di titik itu, ASEAN memperoleh makna yang lebih manusiawi. ASEAN tidak akan cukup kuat hanya karena para pemimpinnya duduk di forum yang sama. Ia membutuhkan masyarakat yang merasa bahwa batas politik tidak harus menjadi jarak kemanusiaan.

Indonesia dan Malaysia memiliki modal sejarah untuk itu. Tetapi modal sejarah bukan jaminan masa depan. Justru karena sejarahnya panjang, keduanya memiliki tanggung jawab yang lebih besar yaitu jangan biarkan sejarah berubah menjadi museum. Karena museum menyimpan sesuatu yang telah selesai. Sementara hubungan antarbangsa harus terus hidup.

Maka pertemuan Surya Paloh dan Ahmad Zahid sesungguhnya memberi kita satu pertanyaan yang lebih besar daripada hubungan dua partai atau dua negara yaitu bagaimana sebuah generasi mewariskan rasa dekat kepada generasi yang tidak mengalami sejarah yang sama?

Jawabannya mungkin bukan dengan terus meminta generasi baru menghafal masa lalu. Tetapi dengan memberi mereka alasan baru untuk berjalan bersama.

Sebab, serumpun bukan tentang siapa yang memiliki masa lalu paling mirip. Serumpun adalah tentang siapa yang masih bersedia membangun masa depan yang saling terhubung. Dan mungkin di situlah makna sesungguhnya dari sebuah warisan.

Warisan bukan sesuatu yang selesai ketika diterima. Sebuah warisan baru bermakna ketika penerimanya memilih untuk meneruskannya.

Serumpun bukan sekadar warisan yang kita terima dari masa lalu. Serumpun adalah kedekatan yang harus kita hidupkan hari ini, agar masih layak diwariskan kepada generasi yang belum lahir.

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *