JAKARTA (4 Juni): Fraksi Partai NasDem DPR RI menghibahkan 1.000 buku kepada warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, dalam kegiatan bertajuk Gotong Royong Literasi, Kamis (4/6/2026).
Bagi Fraksi NasDem, bantuan tersebut bukan sekadar penyerahan buku, melainkan ikhtiar menghadirkan harapan dan kesempatan bagi warga binaan untuk terus belajar, bertumbuh, dan menata masa depan.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat, anggota Fraksi Partai NasDem Ahmad Sahroni, Lestari Moerdijat, Cindy Monica, dan Willy Aditya, serta jajaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dan Lapas Kelas I Cipinang.
Ketua Komisi XIII DPR, Willy Aditya, mengatakan gerakan Gotong Royong Literasi merupakan wujud komitmen NasDem dalam memperluas akses pengetahuan, termasuk bagi warga binaan yang tengah menjalani proses pembinaan.
“Kami tidak semata-mata datang membawa buku. Kami datang membawa harapan. Karena siapa sih manusia yang tidak pernah salah dalam hidupnya? Tidak ada. Setiap manusia memiliki kesalahan, tetapi setiap manusia juga berhak mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya,” kata Willy.
Menurutnya, lembaga pemasyarakatan harus menjadi ruang yang memberi kesempatan bagi setiap orang untuk memperbaiki diri melalui proses belajar dan refleksi.
“Bagaimana penjara, lembaga pemasyarakatan bisa kita jadikan ruang tumbuh bersama, ruang belajar bersama, dan ruang hidup yang memanusiakan manusia satu dengan yang lainnya untuk kemudian memiliki second chance dalam hidupnya,” ujarnya.
Willy menjelaskan, gerakan Gotong Royong Literasi merupakan arahan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh yang diterjemahkan Fraksi Partai NasDem melalui langkah nyata memperkuat budaya membaca di lingkungan pemasyarakatan.
Ia juga mengingat pesan Ketua Fraksi Partai NasDem Viktor Bungtilu Laiskodat yang menjadi semangat gerakan tersebut.
“Kakak Viktor pernah berpesan kepada saya, badan boleh dipenjara, tetapi pikiran kita harus bebas dan bisa bermimpi setinggi langit,” tuturnya.
Oleh karena itu, kata Willy, buku menjadi sarana penting untuk membebaskan pikiran dari keterbatasan ruang fisik. Melalui buku, warga binaan dapat memperluas wawasan, menemukan inspirasi, hingga melahirkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Dengan buku, walaupun badan kita berada di sini, kita bisa meraih apa pun. Dengan buku kita bisa melihat dunia dan melintasi batas-batas yang ada di hadapan kita,” katanya.
Willy mencontohkan sejumlah tokoh besar yang melahirkan karya dan pemikiran penting dari balik penjara, seperti Buya Hamka, Pramoedya Ananta Toer, hingga Nelson Mandela. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa ruang refleksi di dalam penjara dapat melahirkan gagasan-gagasan besar yang memberi dampak luas bagi masyarakat.
Karena itu, ia berharap keberhasilan pembinaan di lapas tidak hanya diukur dari kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga dari lahirnya kreativitas, gagasan, dan pemikiran yang mampu memberi kontribusi positif bagi bangsa.
“Kepatuhan dan ketaatan itu penting. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana lahir pemikiran-pemikiran yang brilian dari dalam penjara. Dari ruang refleksi seperti inilah sering lahir karya-karya besar yang mengubah kehidupan banyak orang,” tegasnya.
Willy menambahkan, gerakan Gotong Royong Literasi juga menjadi upaya menghadirkan wajah pemasyarakatan yang lebih konstruktif dan mencerahkan.
“Selama ini narasi yang berkembang tentang lapas sering kali berkutat pada persoalan-persoalan negatif. Hari ini kita menunjukkan gerakan yang berbeda, yaitu Gotong Royong Literasi. Semoga ini menjadi titik cerah dan menghadirkan narasi yang mencerahkan bagi pemasyarakatan Indonesia,” pungkas Willy.
Program hibah 1.000 buku ini menjadi langkah awal dari gerakan literasi yang akan terus diperluas Fraksi Partai NasDem sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang unggul serta menghadirkan pemasyarakatan yang semakin humanis, produktif, dan berorientasi pada masa depan. (yudis/*)
0 Komentar