Home / Berita / Berita Fraksi
Berita Fraksi

Pengembangan Bandara Harus Berbasis Pasar dan Studi Kelayakan

đź“… 18 Agu 2026 đź’¬ 0 Komentar
Bagikan artikel:

JAKARTA (18 Agustus): Kondisi industri penerbangan saat ini belum memungkinkan maskapai melakukan ekspansi armada secara besar-besaran ke berbagai bandara yang tengah didorong pemerintah. Oleh karenanya, pemerintah harus berhati-hati dalam mendorong pengembangan dan pengoperasian bandara di berbagai daerah.

“Keberadaan bandara tidak cukup hanya ditopang pembangunan infrastruktur yang bagus, tetapi juga harus didukung maskapai dan potensi pasar yang memadai. Bandara itu bisa hidup, enggak cuma bandaranya bagus, tapi harus di support oleh maskapai,” ungkap anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Mori Hanafi, dalam keterangannya, Senin (17/8/2026).

Legislator NasDem dari Dapil NT I itu mengingatkan, apabila jumlah penumpang di suatu bandara masih rendah, pemerintah kemungkinan harus memberikan subsidi agar maskapai bersedia membuka atau mempertahankan rute penerbangan.

Namun, menurutnya, kebijakan tersebut perlu dihitung secara matang. Sebab, subsidi yang diberikan dalam jangka panjang dapat membebani keuangan negara.

“Saya khawatir nanti kalau kita dorong, kita boncos kebanyakan subsidinya. Kalau kita mau minta layanan terbang di situ, karena penumpangnya sepi, mungkin kita harus subsidi dalam rangka menghidupkan bandara itu,” katanya.

Mori menegaskan setiap rencana pengembangan bandara seharusnya didahului studi kelayakan yang komprehensif. Kajian tersebut penting untuk memastikan pembangunan memiliki prospek ekonomi dan didukung kebutuhan pasar.

“Jadi maksud saya, ide bagus ini perlu dilakukan, perlu studi kelayakan dulu, hati-hati,” tegasnya.

Mori kemudian mencontohkan Bandara Kertajati di Jawa Barat yang telah beberapa kali diupayakan pemerintah agar kembali ramai dan berfungsi optimal.

Menurutnya, pemerintah telah mengeluarkan anggaran cukup besar untuk mendorong aktivitas Bandara Kertajati. Namun, berbagai upaya tersebut belum sepenuhnya menghasilkan kondisi yang diharapkan.

“Kita contohnya Bandara Kertajati kan beberapa kali kita coba bangkitkan, tapi itu nggak berhasil. Padahal, mohon maaf ya, beberapa uang yang sudah kita keluarkan, anggaran untuk bagaimana supaya bandara itu sudah banyak, nggak berhasil,” ujarnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis pasar dalam setiap kebijakan pengembangan bandara.

“Harus berorientasi pada kepentingan pasar, itu yang paling utama. Jangan sampai pasarnya nggak ada, kita paksakan,” kata Mori.

Selain sektor penerbangan, Mori juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur jalan, terutama di wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses.

Ia menilai jalan yang menghubungkan antar daerah memiliki peran penting dalam mendukung program swasembada pangan yang menjadi salah satu agenda pemerintah.

Menurut Mori, peningkatan produksi pangan tidak akan optimal apabila tidak dibarengi dengan konektivitas yang memadai. Jalan dibutuhkan untuk memperlancar distribusi hasil pertanian dari sentra produksi menuju pusat konsumsi dan pasar.

“Swasembada pangan itu nggak bisa sukses kalau tidak jalannya ada. Itu nggak bisa,” tegasnya.

Mori berharap pemerintah tetap memberikan perhatian terhadap pembangunan jalan penghubung antar wilayah, khususnya di daerah-daerah yang masih jauh dari pusat ekonomi.

“Karena itu, saya tetap berharap infrastruktur-infrastruktur, yaitu jalan-jalan yang menghubungkan antardaerah dalam rangka swasembada pangan, benar-benar diperhatikan di negara ini,” pungkasnya. (*)

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *