Merindukan Pemimpin Merakyat

0

 

Oleh; Furqon Mukminul Hakim

Mahasiswa ABN Utusan NasDem Jateng

 

Indonesia merupakan negara indah nan kaya, keindahan yang membuat orang dari negeri lain berdecak kagum dan memujinya. Negeri indah ini adalah warisan untuk anak cucu.  Namun mempertahankan akan jauh lebih susah. Jauh banyak rintangan dan halangan.  Oleh karenanya, Indonesia membutuhkan pemimpin yang merakyat.

Sebagai pemuda, pada saatnya kita akan menjadi pemegang tongkat estafet kepemimpinan.  Pemimpin yang mampu merakyat bukan antas nama rakyat.

Merakyat memposisikan diri kita sebagai pemimpin yang sama kedudukannya sebagai rayat, sehingga kita jauh dalam menghayati arti pemimpim. Merasakan apa yang dirasakan rakyat. Mencari solusi berbagai permasalahan dengan sepenuh hati, tidak atas nama tendensi apalagi atas nama prestasi yang harus dipuji.

Merakyat merupakan keharusan bagi setiap pemimpin.  Jikalau kita kutip kata Ki Hajar Dewantara ‘ingarso sun tuladha’ (di depan kita sebagai teladan) maka sudah sepantasnya kita harus menjadi teladan bagi rakyat.

Jauh di sana, di negeri ini, di pelosok desa di daerah Jawa Tengah tepatnya di Desa Keputon Kecamatan Blado Kabupaten Batang masih banyak masyarat kecil yang untuk makan sehari saja susah. Mereka harus benar benar meneteskan peluh demi mendapatkan makan yang layak.

Melihat dan mendengar hal itu, bagaimana seharusnya kita sebagai pemimpin ? Akan kah kita memberi teladan dengan sibuk mempertontonkan ambisi ? Mempertontonkan kemewahan fasilitas yang kita miliki? Namun ironisnya masih saja melakukan korupsi.

Tentu ini bukan hal yang patut untuk dijadikan contoh. Ing ngarso sun tuladha memberikan contoh dengan penuh keikhlasan. Menampilkan keikhlasan memegang prinsip Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-aji, Sugih Tanpa Bandha (Berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan atau mempermalukan, berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan atau kekuatan, kaya tanpa didasari hal-hal yang bersifat materi.)  Itulah pemimpin yang merakyat

Lalu bagaimana dengan pemimpin atas nama rakyat? Terkadang kita lupa dan sering menjadikan rakyat sebagai alat. Alat untuk mencapai tujuan tertentu sehingga kita lupa. Sebenarnya siapa diri kita, dan terkadang atas nama kepentingan menjadikan rakyat sebagai alat pemenuhan kepentingan. Tentunya kita harus paham betul apa dan bagaimana peran kita sebagai pemimpin.

Sudah saatnya kita bertidak sebagai pemimpin yang botton up bukan top down, mendengar apa yang dikeluhkan rakyat, apa yang di inginkan rakyat dan merancang konsep untuk kepentingan rakyat bukan atas nama kepentingan kekuasaan. Kunci itu semua adalah merakyat.

Furqon Mukminul Hakim

Mahasiswa ABN Utusan NasDem Jawa Tengah

Leave a Reply

%d bloggers like this: