JAKARTA (19 Juni): Ratusan jamaah menghadiri Shalat Jumat di NasDem Tower, Jumat (19/6), dengan khatib Ustaz Budi Muhibuddin, M.A. Dalam khutbahnya, ia mengungkap kunci kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, yakni dengan terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Mengawali khutbah, Ustaz Budi mengutip firman Allah SWT tentang keutamaan orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta serta jiwa mereka. Menurutnya, golongan tersebut memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah dan termasuk orang-orang yang memperoleh kemenangan sejati.
“Oleh karena itu, kita harus meningkatkan, setiap hari, nilai-nilai ketakwaan kepada Allah SWT. Kalau kita ingin bahagia di dunia maupun di akhirat, kuncinya tidak lain adalah meningkatkan takwa kepada Allah,” ujarnya di hadapan ratusan jamaah.
Ia menegaskan bahwa ketakwaan menjadi fondasi utama dalam menjalani kehidupan. Sebaliknya, mengikuti hawa nafsu disebutnya sebagai sumber berbagai keburukan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam kesalahan dan kemaksiatan.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Budi juga menyinggung momentum Tahun Baru Hijriah 1448 H yang baru saja memasuki bulan Muharram. Ia mengajak umat Islam menjadikan pergantian tahun sebagai sarana introspeksi dan perbaikan diri.
Menurutnya, bulan Muharram merupakan bulan yang dimuliakan Allah SWT. Karena itu, umat Islam diingatkan untuk menjauhi segala bentuk kezaliman, kemaksiatan, dan perbuatan yang merugikan sesama.
“Jangan berbuat zalim dan jangan berbuat aniaya. Di bulan Muharram, dosa yang dilakukan akan mendapatkan perhatian besar dari Allah. Sebaliknya, jika kita memperbanyak amal saleh, maka pahalanya juga dilipatgandakan oleh Allah SWT,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa makna hijrah yang sesungguhnya bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan sikap dan perilaku menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah berarti meninggalkan segala sesuatu yang tidak dicintai Allah menuju hal-hal yang diridhai-Nya.
“Hijrah adalah berpindah dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari keburukan menuju kebaikan, dari kemalasan menuju kesungguhan dalam beribadah dan beramal saleh,” tuturnya.
Menutup khutbah, Ustaz Budi mengingatkan jamaah agar terus melakukan perbaikan diri setiap hari. Ia mengutip sebuah nasihat yang menyebutkan bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik dibandingkan dengan hari kemarin.
“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dialah orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dialah orang yang celaka,” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah bahwa kebahagiaan dunia dan akhirat tidak dapat dipisahkan dari ketakwaan, semangat hijrah menuju kebaikan, serta kesungguhan dalam menjalankan perintah Allah SWT.
(WH/AS)
0 Komentar