DENPASAR (24 Juli): Pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara bukan lagi pilihan yang tepat buat Bali. Sebagai daerah tujuan wisata internasional, Bali perlu mengembangkan sumber energi yang lebih ramah lingkungan, seperti energi surya, angin, maupun gas alam yang dinilai paling realistis.
“Kita ini memiliki sumber pasokan yang relatif dekat dan cadangan sumber daya alam (SDA) yang memadai. Untuk itu kami mendorong agar adanya percepatan tambahan sumber energi EBT (energi baru dan terbarukan) di Bali. Mengingat margin cadangan daya (reserve margin) sistem kelistrikan Bali tersisa sekitar 1,5 persen,” ungkap anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Syarif Fasha, seusai Kunker Reses Komisi XII dengan jajaran Dirjen Migas, Pertamina, serta PGN di Kuta, Bali, Rabu (22/6/2026).
Syarif mengungkapkan, terkait ketahanan listrik di Bali, pertumbuhan kebutuhan listrik di Pulau Dewata merupakan yang tertinggi secara nasional, yakni sekitar 7,5-7,6% per tahun. Sementara itu, cadangan daya listrik di Bali saat ini dinilai masih sangat terbatas sehingga perlu diantisipasi sejak dini.
Legislator NasDem dari Dapil Jambi itu menjelaskan, saat ini terjadi pergeseran pola konsumsi bahan bakar minyak (BBM) akibat tingginya disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi. Kondisi tersebut membuat masyarakat beralih menggunakan BBM bersubsidi sehingga berpotensi meningkatkan beban subsidi energi.
“Saya berpandangan, pemerintah tidak dapat terus bergantung pada energi fosil. Karena itu, percepatan ekosistem kendaraan listrik perlu dilakukan agar konsumsi BBM impor dapat ditekan dalam jangka panjang. Menurutnya, kolaborasi antara PLN dan Pertamina dapat dilakukan dengan memanfaatkan jaringan SPBU yang sudah ada untuk memperluas pembangunan SPKLU,” ungkapnya.
Syarif juga menilai, penguatan infrastruktur kendaraan listrik menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga ketahanan energi nasional. Menurutnya, peningkatan jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) harus berjalan seiring dengan pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik di masyarakat.
“Saya juga menekankan pentingnya kesiapan layanan purnajual kendaraan listrik. Ia menilai ketersediaan suku cadang, jaringan bengkel, serta layanan perawatan menjadi faktor yang akan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk beralih menggunakan kendaraan listrik,” pungkasnya. (dpr.go.id/*)
0 Komentar