Home / Berita / Berita Fraksi
Berita Fraksi

Rajiv: Karhutla Ancam Satwa Endemik Kalimantan

📅 02 Sep 2026 💬 0 Komentar
Bagikan artikel:

JAKARTA (2 September): Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga mengancam kelestarian flora dan fauna endemik. Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi NasDem, Rajiv, meminta pemerintah memperkuat perlindungan satwa dalam setiap penanganan karhutla.

Rajiv mengatakan Kalimantan merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia yang menjadi habitat berbagai satwa dan tumbuhan langka, seperti orang utan, bekantan, burung rangkong, pohon ulin, dan beragam spesies anggrek.

“Karhutla tidak hanya menghilangkan pepohonan, tetapi juga sumber makanan, air, dan habitat satwa. Kekayaan genetik Indonesia pun berpotensi ikut musnah,” ujar Rajiv, Rabu (2/9/2026).

Menurut dia, satwa yang berhasil menyelamatkan diri dari kebakaran tetap menghadapi ancaman karena kehilangan habitat dan sumber pakan. Kondisi itu juga dapat meningkatkan risiko konflik antara satwa dan manusia ketika satwa memasuki perkebunan, hutan sekunder, maupun permukiman.

Oleh karena itu, Rajiv mendorong pemerintah mengubah penanganan karhutla dari pendekatan reaktif menjadi pencegahan permanen berbasis risiko. Upaya tersebut harus melibatkan kementerian terkait, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, pemegang konsesi, masyarakat adat, dan masyarakat sekitar hutan.

“Situasi ini harus dilihat sebagai krisis ekologis, bukan sekadar persoalan pemadaman api. Setiap titik panas harus segera diverifikasi, ditelusuri sumbernya, dan ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran besar,” tegas legislator NasDem dari Dapil Jawa Barat II (Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat) itu.

Rajiv juga meminta Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup menyiapkan protokol tanggap darurat satwa. Protokol itu mencakup pemetaan habitat dan koridor satwa, tim penyelamatan serta layanan kesehatan satwa, penyediaan habitat sementara, hingga pemantauan pascakebakaran.

Ia menambahkan, perlindungan habitat penting di luar kawasan konservasi juga perlu diperkuat melalui koridor ekologis, areal preservasi, serta kerja sama dengan pemegang konsesi dan masyarakat.

“Perlindungan satwa harus menjadi bagian integral dari penanganan karhutla. Jangan sampai kita hanya menyelamatkan hutan dari api, tetapi kehilangan kekayaan hayati yang ada di dalamnya,” pungkas Rajiv. (*)

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *