Home / Berita / Berita Fraksi
Berita Fraksi

Pembangunan Sekolah Rakyat Harus Dibarengi Sistem Pemeliharaan Memadai

📅 18 Sep 2026 💬 0 Komentar
Bagikan artikel:

MEDAN (18 September): Anggota Komisi V DPR RI, Ir. Teguh Iswara Suardi, S.T., M.Sc., mengungkapkan, secara umum arsitektur bangunan Sekolah Rakyat sudah sangat baik. Optimalisasi pencahayaan alami dan kelancaran sirkulasi udara menjadi elemen krusial untuk menciptakan atmosfer belajar yang nyaman.

Hal tersebut Teguh sampaikan saat melaksanakan kunjungan kerja ke Sekolah Rakyat di Medan, Sumatra Utara, Kamis (17/9/2026).

Agenda tersebut bertujuan meninjau kesiapan sarana pendidikan sekaligus mengevaluasi berbagai aspek penting sebelum fasilitas tersebut beroperasi secara penuh.

“Kendati demikian, pembangunan fisik ini wajib dibarengi dengan perencanaan pengelolaan serta pemeliharaan yang terukur,” ujar Teguh.

Legislator NasDem dari Dapil Sulawesi Selatan II yang berlatar belakang pendidikan magister dari KU Leuven, Belgia, serta pengalaman panjang sebagai arsitek profesional lintas negara sebelum berkecimpung di dunia politik, menaruh perhatian mendalam pada aspek tata letak, keberlanjutan lingkungan, dan aksesibilitas fasilitas belajar.

“Anggaran perawatan fasilitas pendidikan tidaklah kecil. Oleh karena itu, kesiapan operasional, sistem pemeliharaan berkala, serta mekanisme perbaikan bangunan jangka panjang harus dirancang sejak dini agar investasi infrastruktur tidak sia-sia,” papar Teguh.

Selain infrastruktur, Teguh juga menyoroti tingkat keterisian (okupansi) gedung yang masih berada di bawah angka 50 persen. Menurutnya, situasi ini menuntut evaluasi menyeluruh terhadap sistem rekrutmen siswa serta optimalisasi kapasitas ruang yang tersedia. Sebagai solusi, perluasan kriteria penerima manfaat dapat dikaji ulang tanpa melenceng dari visi utama program.

“Tingkat okupansi yang rendah ini harus segera dibenahi. Mekanisme penjaringan perlu dievaluasi agar daya tampung sekolah terserap maksimal. Kita bisa mempertimbangkan pelonggaran kriteria penerima manfaat, sehingga akses pendidikan yang berkualitas tidak terbatas hanya bagi kelompok desil 1 dan 2 saja,” jelasnya.

Lebih lanjut, Teguh mendorong agar Sekolah Rakyat bertransformasi menjadi prototipe sekolah masa depan yang mengusung konsep bangunan hijau (green building). Implementasi teknologi ramah lingkungan seperti panel surya atap, sistem pengolahan sampah mandiri, hingga instalasi pemanenan air hujan dinilai sangat relevan diterapkan.

“Ke depan, konsep ramah lingkungan harus menjadi standar. Penggunaan energi surya dan pengelolaan air hujan akan menjadikan sekolah ini sebagai teladan institusi pendidikan yang berkelanjutan,” tambahnya.

Bagi Teguh, sebuah sekolah bukan sekadar deretan dinding dan atap, melainkan ruang esensial yang merajut pengalaman tumbuh kembang anak. Perencanaan yang matang sejak awal akan menjamin kenyamanan, efisiensi energi, serta kemudahan akses bagi seluruh siswa.

Aspek inklusivitas turut menjadi sorotan utamanya. Ia mengingatkan pentingnya ketersediaan sarana pendukung bagi penyandang disabilitas, seperti jalur landai (ramp) dan ulasan pemandu (guiding block).

“Sekolah Rakyat wajib menjadi ruang pendidikan yang inklusif tanpa terkecuali. Fasilitas aksesibilitas harus fungsional, sebab anak-anak penyandang disabilitas terutama dari keluarga prasejahtera memiliki hak setara untuk mengenyam pendidikan,” tegasnya.

Teguh juga berharap Sekolah Rakyat tidak sekadar menjadi proyek pembangunan fisik semata, melainkan menjelma sebagai standar acuan percontohan fasilitas pendidikan yang memadukan kenyamanan, inklusivitas, dan mutu layanan terbaik.

“Mari kita lihat Sekolah Rakyat lebih dari sekadar gedung fisik; ini adalah model ideal bagaimana sebuah institusi pendidikan dirancang, dikelola, dan dihadirkan untuk masa depan bangsa,” pungkasnya. (nurhadi/*)

Diskusi

0 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *