DENPASAR (20 Agustus): Di tengah perjalanan kembali ke Nusa Tenggara Timur (NTT), anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem dari Daerah Pemilihan NTT II, Viktor Bungtilu Laiskodat, menyempatkan diri menghadiri Ujian Terbuka Promosi Doktor Kristomus Boimau di Fakultas Teknik Universitas Udayana, Bali.
Kristomus mempertahankan disertasi berjudul Pengembangan Biokomposit Serat Buah Lontar (Borassus flabellifer) Bermatriks Polylactic Acid (PLA) untuk Lingkungan Higrotermal. Penelitian tersebut mengkaji pemanfaatan serat buah lontar sebagai bahan biokomposit yang berpotensi digunakan pada lingkungan dengan kondisi kelembapan dan temperatur tertentu.
Bagi Viktor, penelitian itu memiliki relevansi kuat dengan arah pembangunan NTT. Lontar merupakan tanaman yang lekat dengan kehidupan masyarakat NTT dan tumbuh di berbagai wilayah, tetapi pemanfaatannya selama ini belum sepenuhnya menghasilkan nilai ekonomi yang optimal.
“Penelitian seperti ini penting bagi NTT karena mempertemukan kekayaan alam yang sudah kita miliki dengan ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Viktor.
Menurut dia, serat buah lontar yang selama ini memiliki nilai ekonomi relatif rendah memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi material bernilai tambah. Pengolahan lebih lanjut dapat menghasilkan material yang kuat, ringan, sekaligus memiliki karakter yang lebih ramah lingkungan.
Potensi tersebut, kata Viktor, membuka kemungkinan pengembangan industri berbasis bahan baku lokal. Serat lontar dapat diarahkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari furnitur, kemasan, panel interior, hingga komponen ringan untuk kebutuhan industri.
“Di titik inilah kita perlu mengubah cara pandang terhadap kekayaan alam daerah. Bahan yang selama ini kita anggap sederhana dapat memiliki nilai ekonomi tinggi ketika diolah dengan pengetahuan dan teknologi,” ujarnya.
Viktor menilai pembangunan ekonomi NTT perlu bergerak menuju penguatan nilai tambah di daerah. Hasil alam tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diproses, dikembangkan, dan dihubungkan dengan kebutuhan pasar.
Pendekatan tersebut, menurut dia, sekaligus dapat menciptakan ruang bagi tumbuhnya usaha pengolahan di tingkat lokal, membuka lapangan kerja, serta membangun rantai pasok yang melibatkan masyarakat di sekitar sumber bahan baku.
“Kalau kita ingin membangun industri dari kekuatan daerah sendiri, maka riset seperti ini harus mendapatkan ruang. Kita memiliki banyak potensi, tetapi tantangannya adalah bagaimana potensi itu diolah menjadi produk yang bernilai,” kata Viktor.
Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Riset yang lahir dari kampus perlu terus didekatkan dengan kebutuhan masyarakat dan potensi ekonomi daerah sehingga hasil penelitian dapat berkembang menjadi inovasi yang memberi manfaat nyata.
Bagi Viktor, penelitian Kristomus Boimau menjadi contoh bahwa masa depan NTT dapat dibangun dari kekayaan yang tumbuh di tanah sendiri. Lontar, yang selama ini menjadi bagian dari keseharian masyarakat, memiliki peluang untuk memasuki ruang baru melalui riset, teknologi, dan inovasi.
“Lontar adalah salah satu kekayaan yang kita miliki. Ketika ilmu pengetahuan, teknologi, dan potensi lokal dipertemukan, sesuatu yang selama ini dipandang sederhana bisa berubah menjadi sumber nilai dan peluang bagi masyarakat,” ujarnya.
Dari ruang akademik di Universitas Udayana itu, Viktor melihat satu pesan penting bagi pembangunan NTT. Kekayaan daerah tidak cukup hanya diwariskan, tetapi perlu diolah dan diberi nilai melalui pengetahuan.
Dengan cara itulah, menurut dia, pohon-pohon yang tumbuh di tanah NTT dapat menemukan masa depan baru, bukan hanya sebagai bagian dari lanskap dan kehidupan masyarakat, melainkan sebagai bahan baku bagi lahirnya inovasi dan industri yang memberi nilai tambah bagi daerah. (bronto/*)
0 Komentar